Saham Bank Jago (ARTO) Anjlok, Ada Apa?
Peforma saham Bank Jago (ARTO) beberapa hari ini menunjukkan trend yang tidak begitu menggembirakan, ditengah issue masifnya perbankan menggalang dana melalui private placement serta right issue ARTO justru terkesan pasif dan merasa percaya diri mengingat telah memenuhi aturan modal inti minimal dari OJK atau Otoritas Jasa Keuangan. Sebagai catatan sepanjang September 2022 nilai transaksi saham Bank Jago hanya berada pada level Rp. 1.7 Trillun atau turun sekitas 36% dari rapor bulan sebelumnya yang menyentuh Rp. 2.7 Trillun.
Baca Juga : Mengenal Bank Jago, Kelebihan, Kekurangan dan Fitur Menariknya
Sepanjang September 2022 tercatat sekitar 2.3 Juta lot Saham ARTO ditransaksikan di pasar saham, nilai ini turun sekitar 2.8 Juta lot jika dibandingkan dengan bulan Agustus. Penurunan transaksi saham ARTO mengisyaratkan adanya pelemahan likuiditas pasar, trend ini disinyalir akan berlanjut di Oktober 2022, hal ini diperkuat dengan penutupan perdagangan pekan ini Jumat (14/10) dimana saham ARTO ditutup di level Rp. 5.025 per lembar atau turun 23.8% jika dibandingkan dengan bulan berjalan (Month to Date), atau senilai 68.6% Year to Date (YTD).
Baca Juga : Mengenal Blu by BCA Digital, Kelebihan serta Kekurangan
Hal diatas disebabkan oleh minimnya aksi korporasi ARTO, bahkan hingga sisa tahun 2022 belum nampak aksi korporasi yang signifikan oleh ARTO, Tim riset JP Morgan yang dipimpin Harsh Wardan Modi melalui publikasinya pada awal semester kedua 2022 telah mewanti-wanti hal ini dengan menurunkan rating rekomendasi untuk saham ARTO dari Buy menjadi netral, selain minimnya aksi korporasi JP Morgan juga memberikan pendangan lain yakni kebijakan penawaran bunga perseroan yang ditawarkan ARTO salah satunya. JP Morgan menilai saham ARTO hanya cocok untuk aktivitas trading dikarenakan valuasi ARTO yang selalu berputar.
Baca Juga : 5 Alasan Alfamart Kerjasama Bank Aladin, Murni Kembangkan Bisnis?
Belum lama ini memang nampak ARTO sedang melakukan penyesuaian strategi bisnis mereka, hal ini nampak pada laman resmi perusahaan yang mengumumkan tidak lagi menawarkan produk simpanan dengan nominal bunga diatas tingkat yang dijamin Lembaga Penjamin Simpanan atau LPS.
Saat ini ARTO menawarkan bunga promo simpanan senilai 7% yang berlaku 3 bulan bagi pengguna baru di 3 bulan pertama, sedangkan untuk produk Jago Kantong Nabung saat ini bunga yang ditawarkan berkisar diangka 3.5% sampai 4%. Penurunan suku bunga inilah yang dinilai oleh tim JP Morgan belum menunjukkan sikap optimis, apalagi ARTO masih harus beradu dengab suku bunga bank sentral yang akan memberikan pengaruh terhadap daya tarik penyaluran kredit.
Baca Juga : 7 Cara Investasi Saham Jangka Pendek
Sebagai catatan bukan hanya ARTO yang mengeluarkan kebijakan menurunkan suku bunga, PT. Bank Neo Commerce TBK (BBYB) belakangan ini juga turut menurunkan intensitas promo dalam memberikan bunga simpanan. Bank Neo tidak lagi menawarkan suku bunga tinggi yang menyentuh angka hingga 8%, mereka hanya nampak menawarkan pemberian bonus Rp. 50.000 bagi mereka yang mau membuka deposito.
Perubahan kebijakan perbankan digital ini dinilai wajar oleh Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah, menurut Piter perbankan digital pemimpin pasar seperti ARTO dan BBYB memang tengah serius memperkuat kinerja keuangan mereka salah satu caranya dengan tidak memberikan suku bunga besar ke nasabah mereka.
Baca Juga : Macquarie : Saham GOTO Outperform
Untuk ukuran bank digital "murni" peforma ARTO sebenarnya cukup baik dan menyita perhatian publik, sejak akhir tahun lalu rapor bisnis ARTO telah membaik dari rugi menjadi untung, peforma ini sejatinya masih dapat dipertahankan. Semester 1/2022 misalnya, ARTO masih mencatat laba senilai Rp. 28.9 Miliar yang merupakan kebalikan dari posisi kerugian Rp. 46,7 Miliar secara year on year (yoy). Kinerja positive ini ditopang dengan pendapatan bunga bersih yang tumbuh 340% menuju level Rp. 641 miliar, selain itu penyaluran kredit juga mengalami kenaikan senilai 70% secara year to date (ytd) menuju posisi Rp. 14.6 Triliun.
Baca Juga : 6 Aplikasi Berita Saham Gratis di 2022
Sebagai catatan target pertumbuhan kredit oleh manajemen ARTO senilai 30%-40% sampai akhir tahun, manajemen nampak serius mewujudkan target tersebut dengan penyesuaian strategi serta menjalin lebih banyak kemitraan strategis dengan fintek landing dan multifinance serta memperkuat entitas ekosistem grup GOTO.
Bloomberg menilai ARTO aksn mendapatkan bunga bersih di 2022 senilai Rp. 1.4 Triliun atau naik senilai triple digit dari sebelumnya senilai Rp. 641 milliar tahun lalu.

Posting Komentar untuk "Saham Bank Jago (ARTO) Anjlok, Ada Apa?"